DLH Cek Dampak Karhutla, Kualitas Udara Permukiman Perkotaan Malinau Tidak Sehat

Kualitas Udara
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malinau melakukan pengecekan kualitas udara di kawasan Padan Liu’ Burung, Desa Malinau Hulu, Kecamatan Malinau Kota, Selasa (1/9/2026). Lokasi tersebut menjadi salah satu dari tiga titik pemantauan kualitas udara yang dilakukan DLH Malinau di tengah meningkatnya asap akibat kebakaran hutan di wilayah Kalimantan.

MALINAU, PIJARMALINAU.COM Kualitas udara di kawasan permukiman Malinau masuk kategori tidak sehat setelah konsentrasi Particulate Matter 2,5 (PM2,5) di Taman Jajok, Desa Malinau Seberang, Kecamatan Malinau Utara, mencapai 58,67 mikrogram per meter kubik (µg/m³), Selasa (1/9/2026).

Hasil tersebut diperoleh dari pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malinau menggunakan alat portabel di tiga titik yang mewakili karakter lingkungan berbeda. Peningkatan konsentrasi partikel udara terjadi seiring meningkatnya volume asap akibat kebakaran hutan di wilayah Kalimantan Utara.

Bacaan Lainnya

Selain Taman Jajok yang mewakili kawasan permukiman, pengukuran dilakukan di Padang Liu Burung, Desa Malinau Hulu, Kecamatan Malinau Kota, yang mewakili kawasan perkantoran, serta kawasan depan Bandara RA Bessing, Desa Pelita Kanaan, sebagai lokasi transportasi.

Konsentrasi PM2,5 di Padang Liu Burung dan kawasan depan bandara masing-masing tercatat 40 µg/m³. Kedua lokasi tersebut masih berada dalam kategori sedang.

“Kami melakukan pemantauan di tiga titik, yaitu Padang Liu Burung, depan bandara, dan Taman Jajok,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malinau, John Felix Rundu Padang, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (1/9/2026).

John Felix menjelaskan, berdasarkan klasifikasi kualitas udara yang digunakan dalam pemantauan DLH, konsentrasi PM2,5 hingga 55,4 µg/m³ masuk kategori sedang. Jika melampaui angka tersebut, kualitas udara dikategorikan tidak sehat.

PM2,5 merupakan partikel udara berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel masuk lebih jauh ke sistem pernapasan hingga bagian dalam paru-paru.

“PM2,5 inilah yang utama kita perhatikan, karena bisa masuk sampai ke paru-paru bagian dalam dan mengganggu pernapasan,” kata John Felix.

Dibandingkan pengukuran sehari sebelumnya yang berada di kisaran 60 µg/m³, kondisi pada Selasa disebut sedikit membaik. Namun, waktu pengukurannya berbeda. Pengukuran sebelumnya dilakukan pada sore hari, sementara pemantauan terbaru berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang.

DLH juga menggunakan aplikasi IQAir sebagai pembanding. Pemantauan melalui aplikasi menunjukkan angka PM2,5 berada pada 56 pukul 06.00 WITA, naik menjadi 59 pukul 09.00 WITA, kemudian mencapai 67,1 pada pukul 12.00 WITA sebelum turun menjadi 60,7 pukul 15.00 WITA.

Perubahan tersebut menunjukkan kondisi kualitas udara berfluktuasi sepanjang hari. DLH akan terus melakukan pemantauan sekaligus membandingkan hasil pengukuran alat portabel dengan data aplikasi.

“Kita akan monitor terus bagaimana situasinya, karena kita sudah ada pembanding antara aplikasi dan alat kita,” ujar John Felix. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *