Indonesia Perlu Antisipasi Ancaman Epidemi Chikungunya

Chikungunya

Penulis : Dody | Editor : Evandry

JAKARTA, PIJARMALINAU.COM – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi peringatan serius tentang potensi epidemi global Chikungunya. Menyikapi hal tersebut, pakar kesehatan masyarakat Prof. Tjandra Yoga Aditama menyerukan agar Indonesia segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mencegah penyebaran virus tersebut di Tanah Air.

Bacaan Lainnya

“Perlu ada langkah konkret dan terukur agar kita benar-benar siap,” kata Prof. Tjandra yang juga menjabat Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Sabtu (16/8/2025), dikutip dari Metrotvnews.com

Menurutnya, hal pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah memperkuat sistem surveilans nasional secara menyeluruh. Dengan sistem ini, pemerintah dapat memetakan sejauh mana penyebaran virus Chikungunya di berbagai wilayah.

“Kita perlu tahu besarnya masalah Chikungunya di berbagai daerah di negara kita,” ujarnya.

“Tujuan kedua adalah mendeteksi kalau-kalau memang akan ada kecenderungan peningkatan kasus dari waktu ke waktu, dan ketiga membandingkan data surveilans negara kita dengan perkembangan negara lain di kawasan,” sambung mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu.

Tak hanya itu, Prof. Tjandra juga menekankan pentingnya penguatan upaya pengendalian jentik nyamuk, yang selama ini efektif diterapkan untuk kasus demam berdarah dengue (DBD).

“Kerja para kader Jumantik (juru pemantau jentik) perlu terus ditingkatkan, agar kegiatan 3M Plus di masyarakat makin luas terjadi. Ini bukan saja untuk menangani masalah DBD, tetapi juga untuk antisipasi Chikungunya,” tegasnya.

Ia menambahkan, kesiapan fasilitas diagnostik dan pengobatan juga tidak kalah penting. Menurutnya, tenaga medis perlu dibekali dengan kemampuan untuk mendeteksi dan menangani kasus Chikungunya sejak dini.

“Kita juga perlu memikirkan tentang kemungkinan ketersediaan vaksin di masa depan. Kalau pasien bisa ditangani dengan cepat, maka risiko penyebaran bisa ditekan,” ujarnya.

Prof. Tjandra menutup pernyataannya dengan mengingatkan pentingnya koordinasi lintas negara, khususnya antara pemerintah Indonesia dan WHO.

“Kita sekarang masuk ke dalam kawasan Pasifik Barat setelah sebelumnya di Asia Tenggara. Maka dari itu, koordinasi dengan kantor kawasan WHO yang baru ini sangat penting,” katanya.

“Lima hal ini—surveilans, pengendalian vektor, kesiapan fasilitas kesehatan, ketersediaan vaksin, dan koordinasi internasional—bila dilakukan secara bersamaan, akan membuat kita lebih siap bila ancaman Chikungunya benar-benar meningkat,” pungkas Prof. Tjandra. (dnn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *