Penulis : Medry | Editor : Evandry
JAKARTA, PIJARMALINAU.COM – Gerakan literasi di Kabupaten Malinau menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Tidak hanya bertambah dari sisi jumlah taman baca masyarakat, tetapi juga tumbuh menjadi ekosistem literasi yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas, sekolah, relawan, hingga masyarakat desa di wilayah perbatasan.
Perkembangan tersebut dipaparkan Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Ny. Maylenty Wempi, SE dalam gelar wicara nasional “Cerita dari Perbatasan Indonesia di Malinau: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi” di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Dalam presentasinya, Maylenty Wempi menyampaikan bahwa gerakan literasi di Malinau dibangun melalui pendekatan kolaboratif dengan menjadikan masyarakat sebagai penggerak utama, sementara pemerintah daerah mengambil peran sebagai pengarah dan fasilitator.
“Gerakan literasi tidak akan bertahan lama jika hanya bergantung pada pemerintah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Malinau terus memberikan dukungan melalui penguatan kelembagaan, pembinaan taman baca masyarakat (TBM), kolaborasi dengan komunitas literasi, hingga penguatan gerakan sampai tingkat desa.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan yakni membentuk Pokja Bunda Literasi yang disebut sebagai yang pertama di Indonesia. Pokja tersebut dibentuk untuk memperkuat koordinasi lintas pihak dan memastikan gerakan literasi berjalan berkelanjutan.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Malinau juga telah mengukuhkan 15 Bunda Literasi Kecamatan dan 109 Bunda Literasi Desa sebagai bagian dari penguatan gerakan literasi hingga tingkat bawah.
“Kami ingin gerakan literasi tidak berhenti di tingkat kabupaten, tetapi hidup sampai kecamatan dan desa,” ujar Maylenty.
Dukungan pemerintah daerah dan keterlibatan masyarakat tersebut berdampak pada meningkatnya ekosistem literasi di Kabupaten Malinau.
Berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) meningkat dari 5 TBM pada 2020 menjadi 96 TBM pada 2025–2026. Sementara jumlah pegiat literasi naik dari 11 orang menjadi 768 pegiat yang tersebar di berbagai wilayah Malinau.
Peningkatan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa gerakan literasi di Malinau tidak hanya tumbuh sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Meski demikian, Maylenty mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi, mulai dari akses wilayah pedalaman, distribusi buku, keterbatasan internet, hingga keberlanjutan operasional TBM. Namun menurutnya, semangat gotong royong masyarakat menjadi kekuatan terbesar dalam menjaga gerakan literasi tetap berjalan.
“Bersama, kita terus melangkah dari desa, oleh desa, untuk masa depan Malinau yang lebih baik,” katanya.








