California Keluarkan Peringatan Waspada Babi ‘Biru Neon’

Babi
Foto: Science Alert

Penulis : Dody | Editor : Evandry

MALINAU, PIJARMALINAU.COM – Para pemburu di California dikejutkan dengan penemuan daging babi hutan berwarna biru neon mencolok saat sedang memotong hasil buruan mereka.

Bacaan Lainnya

Warna tidak biasa ini memicu peringatan serius dari otoritas setempat mengenai potensi kontaminasi zat kimia berbahaya.

“Saya tidak sedang membicarakan sedikit warna biru. Saya sedang membicarakan jenis biru neon, biru blueberry,” kata Dan Burton, pemilik perusahaan pengendalian satwa liar, dikutip dari Science Alert.

Investigasi resmi dari Departemen Perikanan dan Margasatwa California (CDFW) menyatakan bahwa perubahan warna dramatis itu berasal dari keracunan rodentisida, racun pembasmi tikus yang sering digunakan dalam bentuk berwarna cerah sebagai penanda.

“Para pemburu harus menyadari bahwa daging hewan buruan seperti babi hutan, rusa, beruang, dan angsa mungkin terkontaminasi jika hewan tersebut terpapar rodentisida,” ujar Ryan Bourbour, koordinator investigasi pestisida dari CDFW.

Rodentisida seperti difasinon adalah antikoagulan generasi pertama yang memicu pendarahan internal hebat.

Meskipun lebih cepat terurai dibandingkan rodentisida generasi kedua, zat ini tetap aktif dalam jaringan hewan bahkan setelah dimasak, membahayakan manusia atau predator lain yang mengonsumsinya.

Yang lebih mengkhawatirkan, kasus serupa ternyata bukan kali pertama terjadi.

Babi hutan yang merupakan persilangan antara babi domestik dan babi liar, dikenal sebagai omnivora yang cenderung memakan apa saja, termasuk umpan beracun.

Hal ini memperbesar risiko kontaminasi silang ke rantai makanan lain.

“Paparan rodentisida dapat menjadi perhatian bagi satwa liar non-target di area yang aplikasinya dilakukan di dekat habitat mereka,” tambah Bourbour.

Dampak racun ini tidak hanya terbatas pada babi hutan. Kelompok konservasi satwa liar global telah lama memperingatkan efek berbahaya pestisida terhadap berbagai spesies, mulai dari burung hantu hingga lebah, bahkan manusia.

Beberapa studi mengaitkan paparan pestisida dengan penurunan kualitas sperma, diabetes, kanker, dan penyakit lainnya.

Sebagai respons, CDFW kini mendorong pendekatan pengelolaan hama terpadu, yaitu strategi ramah lingkungan yang menggabungkan penggunaan predator alami, pemasangan pagar atau perangkap, serta teknik pencegahan lainnya.

Masyarakat dan para pemburu yang menemukan hewan dengan warna tubuh mencurigakan, seperti biru neon, atau kelainan lain diminta segera melaporkannya ke Laboratorium Kesehatan Satwa Liar untuk penanganan lebih lanjut. (dnn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *