Mengenal FOMO, Rasa Takut Ketinggalan yang Diam-Diam Menguasai Diri

MALINAU, PIJARMALINAU.COM – Pernah merasa gelisah ketika melihat teman sedang berkumpul tanpa mengajak kita? Atau merasa harus mengikuti tren terbaru karena takut dianggap ketinggalan zaman?

Perasaan tersebut sering disebut Fear of Missing Out (FOMO), istilah yang semakin populer di tengah kehidupan digital.

Bacaan Lainnya

FOMO menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa takut kehilangan pengalaman, informasi, kesempatan, atau momen yang sedang dinikmati orang lain.

Perasaan ini semakin mudah muncul karena media sosial memungkinkan seseorang melihat aktivitas orang lain hampir setiap saat.

Unggahan mengenai liburan, konser, kuliner, pencapaian karier hingga barang terbaru dapat membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Fenomena FOMO dapat dialami siapa saja, terutama mereka yang sangat aktif menggunakan media sosial.Rasa takut tertinggal dapat mendorong seseorang untuk terus memeriksa ponsel, mengikuti berbagai tren,

membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau menghadiri kegiatan hanya karena tidak ingin merasa berbeda dari lingkungan sekitar.

Dalam beberapa situasi, FOMO juga dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Seseorang mungkin memilih mengikuti keputusan kelompok tanpa mempertimbangkan apakah pilihan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Meski demikian, FOMO bukan berarti selalu buruk. Rasa ingin mengetahui sesuatu yang sedang berkembang dapat menjadi motivasi untuk mencari informasi, mencoba pengalaman baru,

dan memperluas pergaulan. Masalah muncul ketika rasa takut ketinggalan tersebut mulai membuat seseorang merasa tertekan atau tidak puas dengan kehidupannya sendiri.

Untuk mengurangi FOMO, seseorang dapat mulai membatasi penggunaan media sosial, berhenti membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain, serta belajar menentukan prioritas.

Menikmati aktivitas tanpa harus selalu membagikannya di media sosial juga dapat membantu membangun rasa puas terhadap diri sendiri.

Pada akhirnya, tidak semua hal harus diikuti. Dunia akan terus menghadirkan tren dan berbagai hal baru. Namun, kemampuan mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan justru dapat menjadi langkah penting untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dan sadar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *