Pelan tapi Pasti, Aspal hingga Festival Warnai Perubahan Wisata Semolon di Masa Wempi-Jakaria

Wisata Air Terjun Semolon
Tangkapan Udara Akses jalan menuju Wisata Air Terjun Semolon, (30/9/2026). Foto : Prokompim Malinau

Penulis : Medry | Editor : Evandry

MALINAU, PIJARMALINAU.COM – Wajah Destinasi Wisata Air Terjun Semolon di Kecamatan Mentarang, terus berbenah secara bertahap pada masa kepemimpinan Bupati Malinau Wempi W. Mawa, S.E., M.H dan Wakil Bupati Malinau Jakaria, SE., M. Si. Peningkatan akses jalan, bertambahnya fasilitas pendukung hingga hadirnya atraksi budaya menjadi bagian dari pengembangan kawasan tersebut.

Bacaan Lainnya

Perubahan paling terlihat terdapat pada akses menuju Semolon. Ruas jalan dari kawasan tersebut menuju Rajuk secara bertahap telah mendapat pengaspalan hotmix dan ditargetkan selesai pada tahun ini.

Sebelumnya, akses menuju Semolon menjadi salah satu tantangan bagi pengembangan destinasi tersebut. Pada Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Malinau menyebut kondisi jalan menuju kawasan wisata itu sudah lebih baik dan dapat dilalui kendaraan selama kondisi cuaca mendukung.

Pembenahan tidak hanya dilakukan pada akses. Sejumlah fasilitas pendukung juga telah tersedia di kawasan Semolon, mulai dari homestay, pondok wisata, gazebo, toilet hingga area parkir.

Pekerjaan lainnya mencakup pembangunan drainase landscape dan aula, serta rehabilitasi toilet dan gazebo. Di luar pembangunan fisik, Semolon mulai diperkuat melalui atraksi berbasis seni dan budaya. Festival Budaya Batu Menari digelar untuk pertama kalinya di kawasan itu pada Selasa (29/9/2026) malam dengan melibatkan 15 sanggar tari.

Wempi berharap festival tersebut tidak berhenti pada penyelenggaraan perdana, tetapi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
“15 sanggar tari yang sudah hadir membuat sejarah baru. Karena ini kegiatan pertama, perdana. Nanti kedua, ketiga, keempat dan seterusnya,” kata Wempi.

Festival Budaya Batu Menari juga direncanakan masuk dalam kalender kegiatan Kabupaten Malinau pada 2027. Di tengah pembenahan kawasan, Wempi menekankan agar karakter alam Semolon tetap dijaga.

Salah satu ciri khas destinasi tersebut adalah aliran air yang membentuk teras-teras alami bertingkat.
Perhatian terhadap ekosistem juga dilakukan melalui pelepasan sekitar 7.000 ikan di kawasan tersebut. Wempi meminta masyarakat dan pengunjung tidak menangkap ikan yang telah dilepas.

“Siapa pun yang datang ke tempat ini wajib memberi makan ikannya, bukan mengambil ikannya,” tegasnya.

Pengembangan Semolon dengan demikian tidak hanya bergerak pada pembangunan infrastruktur. Akses, fasilitas pendukung, kelestarian lingkungan dan kegiatan budaya mulai berjalan beriringan untuk memperkuat fungsi kawasan sebagai destinasi wisata Kabupaten Malinau. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *