KHN dan Sinohydro Gelar Pelatihan Bahasa Mandarin, Warga Sekitar Proyek PLTA Mentarang Antusias

Pelatihan Bahasa Mandarin
Program pelatihan bahasa Mandarin – kerja sama KHN dan Sinohydro

MALINAU, PIJARMALINAU.COM – Upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal terus dilakukan di Kabupaten Malinau. KHN bersama mitra kontraktornya, Sinohydro, melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSER) KHN Lestari, menggelar pelatihan bahasa Mandarin bagi masyarakat di sekitar proyek PLTA Mentarang Induk, tepatnya di Desa Paking dan Harapan Maju.

Program yang telah berlangsung selama enam bulan ini mendapat respons positif dari masyarakat. Setiap sesi pelatihan diikuti rata-rata 30 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pencari kerja, hingga pelaku usaha lokal.

Bacaan Lainnya
Dewi Mayasari, pengajar pelatihan bahasa Mandarin memberikan materi di kelas

Pelatihan ini dinilai relevan dengan perkembangan sektor konstruksi di Malinau yang tengah mengalami pertumbuhan pesat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Malinau dalam publikasi Malinau Dalam Angka 2026, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 21,42 persen.

Peningkatan tersebut didorong oleh belanja infrastruktur daerah yang melonjak, dengan realisasi pembangunan fisik seperti jalan, gedung, jaringan, dan irigasi meningkat hingga 74,29 persen.

Selain itu, pembangunan PLTA Mentarang Induk juga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penyerapan tenaga kerja lokal. Meski saat ini proyek masih berada pada tahap persiapan awal, kebutuhan tenaga kerja diproyeksikan akan terus meningkat seiring percepatan konstruksi.

Instruktur pelatihan, Dewi Mayasari, yang merupakan Translator sekaligus Documents Controller di Sinohydro, menegaskan bahwa kemampuan bahasa Mandarin menjadi nilai tambah penting di dunia kerja, khususnya di sektor konstruksi yang melibatkan tenaga kerja asing.

“Kemampuan bahasa Mandarin menjadi salah satu kunci untuk bisa berkomunikasi langsung dengan tenaga kerja asing di lapangan. Di perusahaan seperti Sinohydro, komunikasi sehari-hari banyak menggunakan bahasa Mandarin, sehingga keterampilan ini sangat relevan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan belajar sangat bergantung pada komitmen peserta. “Bukan soal berapa lama belajar, tapi seberapa besar kemauan untuk belajar. Mereka yang serius biasanya lebih cepat berkembang,” tambahnya.

Marlla (19) dan Jevita (16), peserta pelatihan bahasa Mandarin

Salah satu peserta, Marlla (19), mahasiswa Universitas Terbuka jurusan Akuntansi, mengaku pelatihan ini memberikan bekal penting untuk masa depannya. “Saya ikut karena suka belajar bahasa, dan ini bisa membantu saya lebih siap kerja. Dengan bisa bahasa Mandarin, peluang kerja jadi lebih luas,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Jevita (16), yang tetap semangat meski menghadapi tantangan dalam mempelajari bahasa baru. “Kami biasanya mengulang pelajaran di rumah supaya lebih ingat kosakata yang diajarkan,” katanya.

Menariknya, pelatihan ini juga diikuti oleh kalangan ibu rumah tangga. Miskia (37), seorang pedagang sayur di Desa Paking, melihat peluang ekonomi dari kemampuan berbahasa Mandarin.

“Kalau kami tahu nama-nama sayur dan kebutuhan mereka dalam bahasa Mandarin, kami bisa jualan langsung tanpa perantara. Harapannya usaha kami bisa berkembang,” tuturnya.

Ke depan, program pelatihan ini akan terus diperkuat sebagai bagian dari komitmen KHN dan Sinohydro dalam mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui peningkatan kompetensi masyarakat lokal, diharapkan warga Malinau tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama dalam pembangunan di daerahnya. (md)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *