Dari Pedalaman Perbatasan ke Forum Nasional, Gerakan Literasi Malinau Jadi Contoh untuk Indonesia

Gerakan Literasi Malinau

Penulis : Medry | Editor : Evandry

MALINAU, PIJARMALINAU.COM – Gerakan literasi yang berkembang di Kabupaten Malinau hingga ke wilayah pedalaman dan perbatasan kembali mendapat perhatian di tingkat nasional.

Bacaan Lainnya

Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Ny. Maylenty Wempi, S.E., mendapat undangan sebagai narasumber dalam gelar wicara nasional bertajuk “Cerita dari Perbatasan Indonesia di Malinau, Kalimantan Utara: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi”.

Kegiatan yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Program INOVASI Kemitraan Pendidikan Indonesia–Australia itu dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 21 Mei 2026 di Aula Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur.

Dalam surat undangan bernomor 201/IDINO3-HOF/MAY/2026 tertanggal 15 Mei 2026, pihak penyelenggara menyampaikan bahwa Maylenty Wempi diundang untuk memaparkan praktik baik partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat gerakan literasi di Malinau.

“Melalui kesempatan ini kami mohon kesediaan ibu menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut dengan topik paparan praktik baik terkait partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat gerakan literasi di Malinau,” demikian kutipan surat yang ditandatangani Deputi Program Direktur untuk Ekosistem Pendidikan Daerah Program INOVASI, Ir. Handoko Widagdo, M.A.

Dipilihnya Malinau bukan tanpa alasan. Malinau disebut sebagai contoh nyata daerah perbatasan yang mampu membangun ekosistem literasi secara inklusif dan berkelanjutan di tengah keterbatasan geografis.

Wilayah yang sebagian besar masih berupa hutan alam dengan akses antardesa yang sulit itu justru dinilai berhasil menjadikan literasi sebagai gerakan sosial berbasis masyarakat.

Gerakan literasi di Malinau sendiri terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2020 tercatat baru terdapat 5 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) desa dengan 11 pegiat literasi. Jumlah itu terus meningkat menjadi 15 TBM dan 20 pegiat pada 2021, kemudian 20 TBM dan 35 pegiat pada 2022.

Perkembangan semakin pesat pada 2023 dengan 27 TBM dan 50 pegiat, lalu bertambah menjadi 33 TBM dengan 80 pegiat pada 2024. Memasuki September 2025, jumlahnya meningkat menjadi 37 TBM dengan 105 pegiat.

Kini, pada periode 2025–2026, gerakan literasi Malinau berkembang menjadi 96 TBM dengan total 768 pegiat literasi yang tersebar di berbagai desa dan kecamatan.

Dalam dokumen tersebut juga dijelaskan bahwa kepemimpinan Bupati Malinau Wempi W. Mawa, S.E., M.H. bersama Bunda Literasi Ny. Maylenty Wempi, SE menjadi salah satu faktor penting dalam menggerakkan budaya membaca dan membangun kesadaran kolektif masyarakat bahwa literasi merupakan tanggung jawab bersama, mulai dari keluarga hingga pemerintah desa.

Melalui forum tersebut, praktik baik pembangunan literasi berbasis kolaborasi masyarakat yang diterapkan di Malinau diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *