Penulis : Steven YL | Editor : Evandry
MALINAU, PIJARMALINAU.COM – Menjelang Festival Budaya Irau ke-11 dan HUT Kabupaten Malinau ke-26 tahun 2025, suasana semarak festival budaya ini sudah mulai terasa, dan dampak ekonomi bagi pengrajin lokal pun mulai terlihat. Tidak hanya pengrajin batik, para pelaku kerajinan rotan juga merasakan manfaat langsung.
Salah satunya adalah Arisandi, pengrajin rotan yang menekuni usaha sejak 2020. Ia menceritakan bahwa awalnya bekerja di Perumda Malinau, tempat ia banyak belajar tentang kerajinan rotan.
“Awalnya saya sempat bekerja di Perumda Malinau, di situ saya banyak belajar tentang kerajinan rotan. Melihat peluangnya masih terbuka lebar, akhirnya saya memutuskan menekuni usaha ini,” ujar Arisandi kepada PijarMalinau.com.
Sejak Agustus, saat persiapan Irau dimulai, permintaan produk rotan meningkat drastis. Produk seperti keranjang, dekorasi panggung, dan perlengkapan acara banyak dipesan.
“Omzet meningkat drastis sejak beberapa bulan terakhir. Ini jelas dampak positif dari Irau. Terima kasih kepada Pemda Malinau, khususnya Bupati Malinau Wempi, yang selalu memberi semangat dan dukungan kepada kami para pengrajin,” kata Arisandi.
Meski sudah menembus pasar ekspor hingga Malaysia, Arisandi berharap dukungan pemerintah lebih lanjut, terutama terkait pemasaran dan promosi produk rotan Malinau, agar produk lokal bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Irau bukan sekadar festival budaya, tetapi juga penggerak ekonomi lokal. Festival ini memberi panggung bagi para pengrajin untuk memamerkan karya, meningkatkan omzet, dan membuka peluang menembus pasar nasional maupun internasional.
“Ini momentum penting bagi pengrajin Malinau. Irau memberi kami peluang nyata untuk berkembang dan mengenalkan produk ke tingkat yang lebih tinggi,” tutup Arisandi (syl)








